KATA READONE

Home » Catatan Harian » Cerita Malam Ramadhan

Cerita Malam Ramadhan

Seperti biasanya saat bulan Ramadhan datang, saya dan istri melaksanakan shalat tarawih pada malam harinya di masjid. Biasanya beberapa hari pada awal Ramadhan saya shalat tarawih di masjid dekat rumah dan kemudian untuk berganti suasana pada malam-malam berikutnya saya shalat tarawih di Masjid Al Azhar Jaka Permai Bekasi, hal ini sudah berjalan sejak saya menetap di kota Bekasi.Begitu juga dengan Ramadhan 1437 H kali ini, malam pertama saya shalat tarawih di masjid dekat rumah dan malam berikutnya saya shalat tarawih di Masjid Al Azhar Jaka Permai Bekasi, kecuali jika saya menhadiri undangan buka puasa bersama di tempat lain. Di masjid Al Azhar ini saya memilih tempat di shaf ke delapan, persis baris kedua setelah tangga menuju Mihrab Utama. Di barisan depan saya persis setelah tangga mihrab utama, biasanya sudah diisi oleh tujuh orang kakek yang secara tetap memilih shalat di tempat itu.

Walaupun shaf terdepan merupakan shaf yang utama,saya memilih tempat dibaris ke delapan itu karena merasa nyaman saja, dan ini juga berlaku pada saat saya shalat jum’at. Ditempat ini saya tidak perlu berpindah tempat mengisi shaf yang lebih terdepan jika kosong, karena didepan saya sudah ada tujuh orang jemaah tadi yang juga posisinya juga tidak bergeser karena sudah mentok pada tangga mihrab. Dari tempat ini saya juga bisa melihat imam dan penceramah dengan jelas, termasuk jemaah yang menempati sisi kiri dan kanan masjid ini.

Malam-malam Ramadhan di masjid selalu membawa cerita yang tidak bisa dilupakan, begitu juga Ramadhan tahun ini, setiap waktu menunggu shalat tarawih dari shaf ke delapan itu tujuh orang jemaah yang telah kakek-kakek yang berada di depan saya itu selalu menarik perhatian saya. Setiap malam mereka selalu kompak berada pada shaf ketujuh, masing-masing mereka datang dengan memakai pakaian muslim lengkap dengan peci hajinya, tak lupa mereka menenteng tas kecil lengkap dengan perlengkapannya yang mereka butuhkan selama mengikuti shalat tarawih.

Sebelum shalat Isa dimulai mereka sudah berada pada shafnya, masing-masing asyik bercengkerama, botol-botol aqua gelas yang disediakan masjid sudah berada di hadapan mereka. Diantara jemaah itu saling mengeluarkan isi tas kecilnya ada yang menawarkan permen, ada yang membawa korma dan ada juga yang membawa semacam minuman penambah tenaga sejenis kratindeng dan tentu saja tidak ketinggalan meminum obat.

Salah seorang dari tujuh jemaah itu ada yang jenggotnya cukup panjang dan berwarna putih, sebelum melaksanakan shalat Isa sang kakek masih sempat merawat jenggotnya itu. Dia membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisi cairan, lalu disemprotkannya cairan dari botol itu ke jenggothya sambil mengelusnya. Teman dari kakek itu terkekeh sambil menggodanya ketika melihat kejadian itu.

Suatu malam datang seorang anggota jemaah bergabung dengan mereka, saat bertemu mereka saling berangkulan satu sama lain. Rupanya jemaah itu baru saja pulang dari umrah di tanah suci. Akhirnya mereka asyik bercerita pengalaman selama berumrah sembari mengedarkan botöl kecil yang berisi parfum arab dan mongoleskan ke tangan masing-masing. Saya juga kebagian olesan parfum arab itu setelah ditawarkan salah seorang jemaah dari kelompok itu. Aroma parfum arab itu mengingatkan saya sewaktu shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi saat melaksanakan ibadah haji dan umrah beberapa tahun lalu.

Keesokan malamnya saat jemaah yang baru pulang dari umrah menempati shafnya, dia menenteng sebuah kantong plastik kecil yang isinya ternyata peci haji sebagai oleh-oleh dari tanah suci. Ketujuh jemaah itu asyik memilih peci yang disukainya, masing-masing kebagian satu peci, namun saya yang duduk dibelakangnya tidak ditawarin.

Pada suatu malam salah satu jemaah dari kelompok itu tidak terlihat mungkin berhalangan, temen-teman mereka saling bertanya dan mencari kemana teman mereka yang satu lagi. Begitu juga yang saya lihat dari tahun ke tahun saat menikmati malam Ramadhan di masjid itu, ada beberapa jemaah yang sudah tidak kelihatan lagi, bisa jadi karena tempat tinggalnya pindah, karena sakit atau boleh jadi jemaah itu sudah dipanggil oleh Allah Swt.

Tanpa terasa Ramadhan akan berlalu, malam-malam indah yang penuh ampunan itu akan meninggalkan kita, terasa sedih juga di hati saya, entah akan dipertemukan lagi dengan Ramadhan yang akan datang entah tidak.

Selamat Idul Fitri 1437H, mohon maaf lahir dan bathin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Calendar

July 2016
M T W T F S S
« Feb   Dec »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Recent Posts

Instagram

Temple of heaven, Beijing 16 Maret 2008
#beijing #china #traveling Istana Bogor, 20 Juli 2010
#istana #bogor #istanabogor Masjid Istiqlal, jakarta
#masjidistiqlal  #jakarta #masjid Blue Mosque, Istanbul, Turkey Old City Jakarta
#kotatua #kotatuajakarta #jakarta Amsterdam Tram, Netherlands
#netherlands #amsterdam #europe #tram

Blog Stats

  • 12,610 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 5 other followers

Top Posts & Pages

%d bloggers like this: