KATA READONE

Home » Traveling » Pulang Kampung

Pulang Kampung

Sudah 18 tahun saya tidak menginjakkan kaki di kota kelahiran saya Bukittinggi, menjelang puasa kemaren atas izin dari Allah Swt saya dan keluarga besar mendapat kesempatan untuk pulang kampung. Semula perjalanan ini hanya sekedar mengunjungi Kawasan Wisata Mandeh yang digadang-gadang sebagai kembarannya Raja Ampat untuk menyalurkan hobi fotografi. Akhirnya rombongan bertambah menjadi empat belas orang, jadilah perjalanan ini menjadi pulang basamo untuk bernostalgia mengingat masa kecil di ranah minang.

Perjalanan ke Bukittinggi kami tempuh dengan memilih jalur penerbangan Jakarta – Pekan Baru, agar dapat menyaksikan Jembatan Kelok Sembilan yang kesohor itu. Pesawat Garuda lepas landas jam 9.06 WIB dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Sharif Kasim II Pekan Baru, cuaca bagus dan selama perjalanan saya tertidur pulas sehingga tanpa terasa penerbangan kali ini terasa cepat sekali sampai di tempat tujuan

Pesawat kami mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II jam 10.25 WIB, ini adalah penerbangan pertama saya menuju Pekan Baru. Setelah mendarat, saya yang hanya membawa sebuah koper kecil langsung menikmati bandara yang baru direnovasi tersebut, sementara anggota rombongan lain masih mengurus bagasinya masing-masing. Begitu urusan bagasi selesai, kami langsung menuju pintu keluar bandara untuk mencari kendaraan yang telah dicarter untuk membawa rombongan ke Bukittinggi.

Pekan Baru – Bukittinggi

Sekitar jam 11.22 WIB rombongan mulai bergerak keluar bandara melewati loket parkir, perjalanan menuju keluar bandara agak tersendat karena banyaknya kendaraan yang mau keluar. Untuk menghemat waktu rombongan kami tidak berhenti di Pekan Baru, kami langsung menuju Bukittinggi. Jarak Pekan Baru – Bukittinggi sekitar 220 km yang dapat ditempuh selama lima jam dengan menggunakan mobil.

Satu jam perjalanan dari Pekan Baru telah berlalu, kota pertama yang akan dilewati adalah Bangkinang yang merupakan ibu kota Kabupaten Kampar. Kota Bangkinang cukup berkembang dengan pesat karena jaraknya yang dekat dengan Pekan Baru dan disamping itu sebagai dampak dari dibangunnya jalan raya Pekan Baru – Bangkinang. Sepanjang jalan kedua kota itu mulai dipenuhi ruko yang berjajar di kiri dan kanan jalan serta terlihat banyak pedagang yang menjual buah nenas.

Memasuki waktu Dzuhur kami berhenti di Tanjung Alai untuk makan siang di “Rumah Makan Kelok Indah”, sebuah rumah makan bercita rasa minang dengan menu faforit antara lain dendeng batokok dan ayam batokok. Kami makan enak disiang itu karena perut memang sudah mulai keroncongan. Mengingat hari itu hari jumat saya sempatkan melaksanakan Shalat Dzuhur sebagai pengganti Shalat Jumat di sebuah mushola dekat rumah makan itu.

Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju Pangkalan, sebuah ibu kota kecamatan di Kabupaten Lima Puluh Kota Propinsi Sumatera Barat. Topografi daerah Pangkalan Koto Baru ini bervariasi antara datar, berbukit-bukit dan berkelok-kelok, dikiri kanan jalan banyak pepohonan menghiasi danau buatan. Danau buatan ini cukup luas yang merupakan bendungan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Sampai di Koto Baru Pangkalan jam 16.35 WIB, perjalanan sempat terhenti karena adanya perbaikan jalan, kesempatan itu kami gunakan untuk menikmati keindahan danau buatan itu.

Jembatan Kelok Sembilan

Jembatan Kelok Sembilan

Beberapa menit setelah melewati Koto Baru Pangkalan kami sampai di Kelok Sembilan, yaitu suatu daerah dimana ruas jalannya berkelok-kelok dengan sembilan tikungan tajam. Ruas jalan ini terletak disekitar 30 km sebelum memasuki kota Payakumbuh yang terbentang di Jorong Aia Putiah Nagari Sarilamak Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota. Daerah ini memiliki jurang yang terjal, diapit oleh dua perbukitan diantara dua cagar alam yaitu Cagar Alam Aia Putiah dan Cagar Alam Harau.

Disepanjang jalan Kelok Sembilan ini telah dibangun jembatan layang sepanjang 2,5 km yang terdiri dari enam jembatan dan jalan penghubung sepanjang 1,5 km. Jembatan Layang Kelok Sembilan ini diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada bulan Oktober 2013. Keinginan untuk melihat Jembatan Layang Kelok Sembilan ini merupakan salah satu alasan kenapa saya dan rombongan mengambil rute penerbangan melalui Pekan Baru dan tidak langsung melalui Padang.

Kami berhenti di Jembatan Layang Kelok Sembilan sekitar setengah jam, melepaskan kepenatan selama perjalanan, ada yang makan jagung bakar sambil ngopi sementara saya menggunakan kesempatan ini untuk mengambil beberapa foto disekitar Kelok Sembilan ini.
Di pinggir jalan saya melihat pedagang batu akik menggelar dagangannya, kebetulan saat itu sedang musim batu akik, batu yang lagi ngetren disini adalah batu suliki.

Setelah melewati Kelok Sembilan kami memasuki Kecamatan Harau, disini terdapat sebuah obyek wisata yang kesohor yaitu Lembah Harau, yaitu lembah yang diapit oleh dua tebing yang curam yang sebagian tebingnya ditutupi oleh pepohonan. Berhubung sudah sore, kami tidak singgah di Lembah Harau ini dan perjalanan dilanjutkan menuju kota Payakumbuh. Kami memasuki kota ini sekitar jam 17.30 WIB. Saat melewati Jalan Sudirman, jalan ini sedang dalam perbaikan sehingga arus lalu lintas agar tersendat, dikiri kanan jalan dipenuhi oleh toko sementara pedagang makanan sudah banyak yang menggelar dagangannya.

Sepanjang jalan Payakumbuh sampai ke Baso, jalur kereta api yang meaghubungkan Payakumbuh dengan Bukittinggi sudah tidal berfungsi, diatas rel kereta api banyak berdiri bangunan. Pemandangan ini mengingatkan saya pada waktu masa kecil saat saya naik kereta api dari Tanjung Alam menuju Payakumbuh, tapi sekarang jalur kereta ini sudah tidak berfungsi. Terakhir terdengar kabar bahwa jalur kereta api di Sumatra Barat akan difungsikan kembali.

Kami berhenti sebentar di daerah Tanjung Alam, untuk singgah di rumah salah satu keluarga yang telah meninggal beberapa minggu yang lalu uituk menyampaikan rasa duka cita. Setelah berpuluh tahun barulah saya menginjakkan kaki di rumah ini yang bentuk rumahnya sudah berobah.

Hari sudah mulai gelap saat perjalanan dilanjutkan menuju Bukittinggi, dikiri kanan jalan sudah banyak dipenuhi oleh ruko-ruko baru, sementara sawah-sawah telah mulai berkurang. Kami memasuki Bukittinggi jam 18.30 WIB dan langsung menuju Restoran Family dekat Benteng Ford de Kock untuk makan malam. Ayam pop dan dendeng batokok adalah menu faforit malam itu.

Selesai makan malan kami menuju ke Royal Denai Hotel tempat kami menginap malam itu, letaknya tidak jauh dari Restoran Family tadi. Malamnya ada rencana untuk jalan melihat Jam Gadang, tetapi rencana itu batal karena hari hujan. Akhirnya kami ngobrol di lobby hotel bersama seorang keluarga yang sengaja datang ke hotel. Malam itu saya tidur enak di Royal Denai Hotel menikmati dinginnya udara Bukittinggi.

Bermalam Di Bukittinggi

Pagi-pagi sekali setelah shalat subuh saya sudah turun ke lobby hotel lengkap dengan kamera, saya tunggu yang lainnnya belum pada bangun, akhirnya saya jalan keluar hotel menjajal Bukittinggi di pagi buta itu. Saya menuju ke arah Benteng Ford de Kock ternyata untuk masuk benteng itu sekarang harus melalui pintu gerbang tempat penjualan tiket yang masih tutup. Dahulu untuk masuk ke Benteng Ford de Kock tidak bayar, atas kebaikan seorang bapak tua akhirnya saya dapat memasuki benteng itu melalui jalan lain.

Pengunjung belum ada yang memasuki banteng itu karena hari masih rada gelap, kelap kelip lampu dari bangunan di sekitar kota Bukittinggi menghiasi langit pagi itu. Saya mengambil beberapa foto disekitar benteng itu, termasuk Jembatan Limpapeh yang menghubungkan Ford de Kock dengan Kebun Binatang yang teletak di dekat Pasar Atas Bukittinggi. Tidak lama di benteng itu kemudian saya kembali ke hotel untuk bergabung dengan anggota rombongan yang lain.

Rencana pagi ini mau mencari sarapan pagi di Pasar Atas, atas saran seseorang di hotel akhirnya kami menuju ke pertigaan jalan ke Ngarai Sianok dekat sebuah pasar dekar Masjid Al Ihsan Banto Laweh, disana ada sebuah warung yang bernama “Pical Ayang”. Disini dijual aneka kuliner khas Bukittinggi seperti pical, bubur kampiun, nasi sup, lontong, teh talua dan lain-lainnya. Kami menikmati kuliner enak di pagi itu, saya sempat mencicipi bubur kampiun di warung itu. Setelah selesai sarapan kami kembali ke hotel dengan menaiki angkot untuk bersiap melanjutkan perjalanan pada hari itu.

Tepat jam 09.00 WIB kami berangkat dari hotel menuju Pasar Atas dengan mobil carteran kemaren, rencananya mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang. Kesan saya saat memasuki Pasar Atas, ternyata Bukittinggi sekarang sudah semrawut dipenuhi kendaraan, dikiri kanan jalan banyak mobil parkir terkesan tidak beraturan. Pasar Atas saya lihat kurang terjaga kebersihannya. Dari atas Janjang Ampek Puluah saya pandangi Bukittinggi kebawah, saya tidak merasakan aura kota ini seperti dahulu lagi dan ternyata Bukittinggi juga sudah berobah seperti kota besar lainnya di Indonesia.

Setelah acara di Pasar Atas selesai kami sempat menikmati “ampiang badadiah di Pasar Atas, makanan ringan khas Bukittinggi ini terbuat dari campuran ampiang (emping) terbuat dari beras dengan dadiah yang terbuat dari fermentasi susu kerbau yang dicampur dengan gula aren, rasanya manis bercampur asam. Dadiah juga terkenal sebagai yoghurt traditional nya Minangkabau walaupun sedikit berbeda dengan yoghurt biasa.

Jam Gadang, Bukittinggi

Jam Gadang, Bukittinggi

Perjalanan di lanjutkan menjuí Pusat Pertokoan Pasar Atas, disini banyak dijual hasil kerajinan Bukittinggi dan sekitarnya, terutama pakaian muslim, sarung, baju koko dan aneka sulaman khas Bukittinggi. Saya pandangi Jam Gadang dari Pasar Atas yang sekelilingnya telah berobah menjadi taman buat ruangan publik tempat penduduk sekitar bersantai, yang juga menjadi magnet tersendiri pagi wisatawan untuk datang ke areal ini. Acara shopping lanjutan ini berakhir, masing-masing ada yang membawa jinjingan hasil buruannya dan ada juga yang cuma cuci mata sambil memandang Jam Gadang.

Jam 12.00WIB kami melanjutkan perjalanan menuju kampung tempat kami melewatkan masa kecil, kami melewati jalan arah Tigo Baleh dan berhenti Pakan Ladang. Dahulu Pakan Ladang adalah sebuah pasar yang ramai pada hari Rabu dan Saptu tempat pedagang yang berasal dari daerah sekitarnya datang untuk menjajakan aneka barang daganganya. Tapi sekarang pasar itu sudah tidak ada dan sudah berdiri bangunan diatas tanahnya. Karena sudah hampir jam satu siang kami singgah di Rumah Makan Haji Marah yang terkenal dari dahulu dengan gulai kambingnya.

Sekitar jam 13.30 WIB kami sudah berada di Bonjol Alam, saya pandangi rumah tua tempat saya dibesarkan , ada bagian dari rumak itu yang sudah berobah namun secara keseluruhan masih menampilkan bentuk aslinya. Seperti biasanya rumah itu jadi ramai dikunjungi sanak famili yang masih tersisa disekitar rumah itu. Obrolan dan canda masa lalu meramaikan pertemuan yang langka itu.

Saya sempat shalat di masjid depan rumah yang bentuknya sudah berobah dan lebih apik. Saya juga sempat jalan-jalan diradius seratus meter disekitar rumah dari jauh terlihat Gunung Marapi, sudah banyak bangunan baru, ada listrik, jalan sudah diaspal walaupun disana sini ada yang berlobang, sementara sawah sudah mulai dipenuhi bangunan, bahkan sudah ada pendatang yang bermukim dan mendirikan rumah di kampung itu.

Selesai sudah bernostalgia di kampung itu, perjalanan kami lanjutkan ke arah Balaigurah dan berhenti di Biaro ibu kota Kecamatan Ampek Angkek. Kami turun dari mobil dan langsung menuju penjual batu akik yang berjejar di pinggir jalan. Saya dapat batu suliki dan sungai dareh sebagai kenang-kenangan, yang lain pun asyik memilih-milih batu akik kesukaannya.

Padang Panjang adalah kota tujuan kami selanjutnya, walaupun hari sudah mulai senja kami sempatkan mengunjungi Padang Panjang hanya untuk mencicipi Sate Mak Syukur dan Bika Mariana. Terkabul juga niat saya untuk mencicipi Sate Mak Syukur di tempat asalnya yang ternyata sudah menjadi sebuah restoran berlantai dua yang khusus menjual Sate Mak Syukur. Memang agak lain dibandingkan dengan Sate Mak Syakur yang ada di Jakarta, dagingnya lebih tebal.

Hari sudah gelap, kami singgah juga di Bika Mariana, kami cicipi bika itu sambil melihat penjualnya memasak penganan itu. Sambil menikmati sejuknya udara Padang Panjang kami menikmati bika itu dengan lezatnya. Habis menikmati Bika Mariana kami langsung kembali ke Bukittinggi untuk beristirahat di hotel. Tidak lama di hotel ternyata sudah ada tamu yang datang untuk bertemu dan bersilaturahim, saya baru bisa istirahat lewat jam sepuluh malam.

Kawasan Wisata Mandeh

Rombongan berangkat dari Royal Hotel Denai menuju Kawasan Wisata Mandeh di Kabupaten Pesisir Selatan pada jam 06.30 WIB. Perjalanan pagi itu berlangsung dalam cuaca yang kurang bersahabat, hujan gerimis mengguyuri jalan. Sampai di Padang Panjang rombongan berhenti sebentar di Rumah Makan Pak Datuk, karena ada ada yang ingin membeli dendeng batokok untuk dibawa ke Jakarta.

Sampai di Lembah Anai jam 07.30 WIB, air terjun Lembah Anai hanya kami pandangi saja dari mobil karena gerimis mash turun. Daerah Kayu Tanam kami lewati dengan santai dan tanpa terasa kami sampai di Sicincin. Dahulu saya sering membeli buah manggis muda yang ditusuk dengan lidi kelapa yang rasanya manis sekali. Manggis muda itu tidak sempat kami cicipi berhubung kami tidak berhenti.

Di Lubuh Alung rombongan berhenti sebentar di SPBU Pasar Usang, Kampung Apar untuk beristirahat sejenak, ke toilet dan beli cemilan. Kemudian Lubuk Buaya dan Tabing kami lewati, sehingga tepat jam 09.00 WIB kami sudah sampai di Kota Padang.

Untuk sampai ke Kawasan Wisata Mandeh perjalanan harus dilanjutkan ke arah Kabupaten Pesisir Selatan yang memakan waktu lebih kurang satu jam dari Padang dalam kondisi jalan normal. Sebelum berangkat menuju Teluk Bayur kami sempat melewati Pantai Aia Manih, disini terdapat Batu Malin Kundang sebagaimana dikisahkan dalam legenda termasyhur Malin Kundang.

Selama perjalanan menuju Mandeh kita akan melewati Teluk Bayur, Taluak Kabuang, Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus, Pantai Bungus, Pantai Carolina. Pemandangan di kiri jalan dipenuhi perbukitan sedangkan di kanan jalan tehampar laut biru dan dari kejauhan terlihat Pelabuhan Teluk Bayur.

Kami memasuki Kabupaten Pesisir Selatan jam 10.00 WIB, kondisi jalan sebagian mulai keriting kemudian sebagian lagi dalam kondisi baik. Waktu sampai di Tarusan pada jam 11.00 WIB , jalan terpecah menjadi dua dan kita ambil jalan lurus yang bukan merupakan jalan raya utama. Setelah masuk beberapa puluh meter perjalanan akan mengarah kekanan jalan dengan melewati dua buah jembatan dengan kondisi jalan menanjak disekitar perbukitan yang dikiri kanan jalan dipenuhi oleh pohon nipah.

Kawasan Wisata Mandeh

Kawasan Wisata Mandeh

Akhirnya kami sampai di Puncak Mandeh yang teletak diatas perbukitan, dari sini pemandangan sungguh menakjubkan. Terlihat aktifitas kapal-kapal nelayan yang berlayar dari Teluk Carocok dan mengarah kekanan terlihat laut biru dipenuhi gugusan pulau yang termasuk Kawasan Wisata Mandeh, yaitu Pulau Traju, Pulau Setan Kecil, Pulau Sironjong Kecil, Pulau Sironjong Besar dan Pulau Cubadak. Di sisi utara Kawasan Wisata Mandeh terdapat beberapa pulau yang melingkar yaitu Pulau Bintangor, Pulau Marak, Pulau Ular dan Pulau Pagang.

Kawasan Wisata Mandeh dapat diakses melalui laut dan jalan darat, bila naik kapal dapat melalui Pelabuhan Bungus, Pelabuhan Teluk Bayur atau dari Pelabuhan Muara Padang serta Teluk Tarusan. Kawasan Wisata Mandeh ini memang indah dan tidak salah dijuluki sebagai kembarannya Raja Ampat. Kawasan Wisata Mandeh ini sedang dalam pengembangan dan telah dimasukkan ke dalam Rencana Induk Pengembangan Wisata Nasional (RIPPNAS).

Jalan langsung dari kota Padang menuju Mandeh ini sedang dalam pembangunan, diharapkan perjalanan Padang – Mandeh akan dapat ditempuh dalam jangka waktu tiga puluh menit jika jalan ini selesai. Acara foto-fotopun dimulai dengan pemandangan laut yang ditaburi gugusan pulau-pulau yang termasuk Kawasan Wisata Mandeh. Memang rencana untuk menikmati sunrise di tempat ini belum kesampaian, mungkin pada kesempatan berikutnya kita dapat menyalurkan hobby fotografi ditempat ini.

Kawasan Wisata Mandeh

Kawasan Wisata Mandeh

Setelah puas menikmati keindahan pemandangan dari Puncak Mandeh perjalanan kami lanjutkan menuju Pelabuhan Carocok. Di tempat ini kami menyewa sebuah perahu dengan tarif Rp 500.000,— perhari untuk mengelilingi gugusan bagian dalam dari pulau yang terdapat disekitar Kawasan Wisata Mandeh. Keberadaan Teluk Carocok ini menjadikan Kawasan Wisata Mandeh memiliki pantai yang landai tidak berombak yang cocok untuk wisata menyelam dan snorkeling.

Mengitari gugusan pulau di Kawasan Wisata Mandeh ini sungguh suatu pengalaman yang tikda terlupakan. Kami hanya berhenti di Pulau Setan, semua anggota rombongan turun dari kapal dan melakukan foto bersama di pulau itu. Pulau yang terbesar diantara gugusan pulau itu adalah Pulau Cubadak, yang dikelola oleh investor asal Italia. Di pulau Cubadak ini terdapat resort yang hanya dikunjungi wisatawan mancanegara saja, kami hanya bisa memandangnya dari atas kapal.

Kami mengitari gugusan pulau-pulau ini sekitar satu jam berhubung harus memperhitung waktu untuk balik ke kota Padang guna guna mengejar penerbangan terakhir menuju Jakarta. Saat memasuki kembali Pelabuhan Carocok, kita akan disuguhi dengan pemandangan kapal-kapal kayu nelayan yang berlalu lalang dan bersandar dengan indahnya.

Pelabuhan Carocok kami tinggalkapada jam 14.30 WIB, perjalanan dilanjutkan menuju kota Padang, perjalanan yang relatif lancar membikin perut mulai keroncongan karena di Mandeh kami tidak sempat makan siang. Sampai di kota Padang kami dibawa oleh sopir kendaraan menuju ”Rumah Makan Pagi Sore” di Jalan Pondok No 143 Padang, sebuah rumah makan minang yang sudah berdiri sejak tahun 1947. Makanan di rumah makan ini enak sekali khususnya rendang dan goreng ayam muda yang sempat saya rasakan.

Sebelum menuju Bandara Minangkabau masih ada satu acara lagi yaitu mengunjungi toko Kripik Balado Christine Hakim, untuk membeli oleh-oleh guna dibawa ke Jakarta. Disini dijual aneka rupa makanan khas Sumatra Barat mulai dari aneka kripik, dodol (kalamai) maupun rendang yang dijual dalam kemasan.

Selesai acara shoping rombongan langsung menuju Bandara Minangkabau dan sampai disana jam 19.50 WIB. Ternyata pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta delay lebih kurang satu setengah jam. Saya langsung menuju ruang tunggu untuk beristirahat karena sudah kecapean selama mengikuti perjalanan ini. Akhirnya pesawat yang membawa kami datang juga dan lepas landas dari Bandara Minangkabau sekitar jam 22.00WIB.

Saya berniat untuk mendatangi Kawasan Wisata Mandeh ini pada kesempatan lain buat hunting foto dan merasakan sunrise di kawasan wisata ini.

• Tulisan yang tercecer

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Calendar

December 2015
M T W T F S S
« Apr   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Recent Posts

Instagram

Temple of heaven, Beijing 16 Maret 2008
#beijing #china #traveling Istana Bogor, 20 Juli 2010
#istana #bogor #istanabogor Masjid Istiqlal, jakarta
#masjidistiqlal  #jakarta #masjid Blue Mosque, Istanbul, Turkey Old City Jakarta
#kotatua #kotatuajakarta #jakarta Amsterdam Tram, Netherlands
#netherlands #amsterdam #europe #tram

Blog Stats

  • 12,610 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 5 other followers

Top Posts & Pages

%d bloggers like this: