KATA READONE

Home » Catatan Harian » Batu Akik

Batu Akik

Ditengah euforia demam batu akik, timbul juga keinginan saya untuk mengetahui riuh rendahnya pecinta batu akik menikmati batu kegemarannya baik melalui obrolan dipinggir jalan, diemper toko, di stasiun kereta maupun di pasar batu akik sendiri. Dimana-mana orang banyak memperbincangkan batu akik, saya sendiri menyaksikan di depan sebuah tempat pijit refleksi pegawai-pegawainya yang tidak melayani tamu sedang asyik menggosok batu akik. Saya bukanlah penghobi batu tapi terus terang saya mempunyai beberapa cincin yang ada batunya, hanya sebegitu persinggungan saya dengan dunia batu akik.

Demam batu akik yang sedang melanda masyarakat akhir-akhir ini, membawa saya pada hari minggu kemaren tanggal 12 April 2015 untuk mengunjungi pasar batu akik yang konon terbesar se Asia Tenggara yaitu “Jakarta Gem’s Central” (JGC) di Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur. Dengan naik Commuter Line melalui Stasiun Bekasi kemudian turun di Stasiun Jatinegara dan menyeberang jalan di depan Stasiun Jatinegara, akhirnya sampailah saya di JGC. Terus terang ini kali pertama saya mengunjungi JGC yang sudah berpuluh tahun menjadi pusat penjualan batu akik di Jakarta.

Memasuki lantai dasar gedung JGC ini, saya langsung menyaksikan ramainya pengunjung yang berdesakan memenuhi counter-counter batu yang terdapat di lantai dasar tersebut, JGC ramai dikunjungi penggemar batu akik pada hari libur sabtu dan minggu. Disini kita dapat memilih batu akik dari harga Rp 25.000,– sampai harga jutaan dari berbagai macam batu, disamping itu tersedia pengikat batu dari berbagai bahan seperti titanium, perak, baja dan lain-lainnya dengan harga yang bervariasi mulai dari Rp 50.000,—. Di lantai dasar ini juga kita jumpai counter-counter tempat penggosokan batu akik, yang kalau kita serahkan pagi hari nanti pada siangnya batu kita sudah selesai digosok. Ditengah sesaknya penggemar batu akik amat disayangkan alat pendingin ruangan saat itu tidak berfungsi dengan baik sehingga udara terasa panas.

Saya keluarkan sebuah batu akik yang telah lama saya simpan dan saya sodorkan pada seorang penjual batu akik sambil menanyakan apa nama batu itu. Bacan ya, kata pedagang itu dan saya ketawa saja mendengar jawabannya. Kemudian dia melihat batu itu lebih dekat sambil menggunakan senter, akhirnya dia sebut batu itu hijau lumut. Pada saat naik ke lantai satu kembali saya tanyakan nama batu itu pada seorang pedagang yang konon sudah lama menggeluti bisnis batu akik, dia menyatakan batu itu adalah Yaspis Wonosobo. Entah apa sebenarnya nama batu yang saya bawa itu saya sendiri tidak tahu karena mereka menyebut nama batu itu berdasarkan pengalaman yang mereka miliki.

Naik satu lantai ke lantai satu gedung JGC suasana pedagang batu akik tidak sepadat lantai dasar, disini juga terdapat berbagai macam counter batu akik termasuk counter batu asli seperti blue sapphire , zamrud dan lain sebagainya. Saya sempat singgah di sebuah counter penjualan batu blue sapphire, pedagang batu itu menyatakan bahwa mereka hanya menjual batu asli seperti blue sapphire asli dari Afrika, zamrud dan lainnya. Bagi pembeli blue sapphire akan mengetahui harga batu itu setelah ditimbang dan diketahui berapa carat beratnya, setiap carat batu itu dinilai sebesar Rp 40.000,—. Sayapun sempat mendatangi sebuah counter milik seorang warga keturunan Arab yang khusus menjual batu yang berasal dari Afghanistan yang disebut dengan Batu Lapis Lazuli. Kalau kita bicara mengenai batu lapis ini, maka dipikiran akan terbayang pada batu yang berwarna biru benhur. Konon Batu Lapis Lazuli ini ditemukan di daerah Afghanistan dan diperkirakan batu ini sudah ditambang sekitar 6.500 tahun (4000 tahun SM), hal ini dibuktikan dengan ditemukannya berbagai macam perhiasan kuno pada zaman Pra-Dinasty di Mesir.

Setelah cukup lama berkeliling dari satu counter ke counter lainnya, tanpa terasa haripun sudah mulai siang, perut saya sudah mulai keroncongan. Naik satu tingkat lagi ke atas terdapat tempat orang berjualan aneka macam makanan, bagi yang sudah lapar dapat langsung memesan makanan dan bagi yang mau shalat tersedia mushola satu tingkat lagi ke atas. Karena perut saya sudah mulai keroncongan, sayapun mendatangi sebuah Warung Padang untuk makan siang.

Anda senang batu, disinilah tempatnya, gosok…….gosok terus sambil ngupi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Calendar

April 2015
M T W T F S S
« Feb   Dec »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Recent Posts

Instagram

Pengrajin keramik di Cappadocia, Turkey
#turkey #cappadocia #ceramic Eiffel #european #france #parís #topeuropephoto #eiffeltower #architecture #topparisphoto Acara Workshop & Pre Order X Series Fuji tanggal 1 November 2014 di Hotel Kontinental Jakarta. Big Bus Vienna
#europe #vienna #austria #streetphotography  #streetphoto Prambanan Temple, Yogyakarta
#candi #yogyakarta #temple #prambanan #jawatengah #idtravelers Alun-Alun Purwokerto
#purwokerto #banyumas #cityscape

Blog Stats

  • 13,017 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 5 other followers

%d bloggers like this: